Www.advent1jkt.sch.id – Aisha retno tamak menjadi perhatian dalam kabar terbaru ini. Penyanyi dan komposer Sharifah Aisha Retno Sayed Sipulijam menepis tuduhan bahwa dia bersikap tamak karena menerima banyak tawaran dalam waktu bersamaan. Aisha menegaskan bahwa kesibukan adalah impian banyak pekerja seni, sehingga perlu dilihat sebagai hal positif.

Isu soal keinginan menerima banyak pekerjaan muncul bersamaan dengan jadwal padat yang harus dia jalani: dua acara besar berlangsung pada hari yang sama, yaitu Latihan Pestapora dan Anugerah Juara Lagu (AJL). Aisha menegaskan bahwa segala persiapan telah dilakukan agar kedua penampilan dapat berjalan lancar.
Aisha Retno menolak anggapan tamak
Aisha menolak label tamak dan memaparkan pandangannya tentang arti sebenarnya dari kata tersebut. Dia menyampaikan bahwa selama seseorang mampu secara fisik dan mental, serta tidak mengambil hak orang lain, menerima banyak tawaran kerja bukanlah sesuatu yang salah. Dalam pernyataannya dia menegaskan, “Bagi saya, why not? Nak kata tamak? Tak adalah. Rezeki ada di mana-mana. Selagi kita mampu, kita galas.”
Lebih lanjut, Aisha merinci bahwa bagi dirinya sifat tamak baru berlaku ketika seseorang merampas peluang milik orang lain atau menerima pekerjaan yang sebenarnya tidak bisa dilaksanakan. Dia menegaskan batasan ini sebagai tolok ukur etika kerja di ranah seni. “Bagi saya, definisi tamak adalah apabila kita mencuri kerja orang lain atau mencaras rezeki orang lain atau apabila kita tahu kita tak mampu buat sesuatu, tetapi tetap mahu ambil juga. Itu bagi saya adalah definisi tamak,” ujarnya.
Persiapan matang untuk dua penampilan besar
Menghadapi dua panggung besar dalam satu hari, Aisha mengatakan timnya telah merancang semua detail sejak awal. Diskusi soal setlist, durasi penampilan di Pestapora, sampai waktu istirahat sebelum maju ke AJL, diklaim telah diperhitungkan dengan cermat. Atas dasar itu, Aisha optimistis semua akan berjalan sesuai rencana: “Semuanya sudah diperhitungkan, insya-Allah semuanya baik-baik sahaja.”
Penyanyi berusia 25 tahun ini juga menyampaikan sikap tenangnya terhadap persepsi publik. Meski tidak bisa mengontrol apa yang orang pikirkan, Aisha memilih fokus pada kualitas penampilan. Dia menegaskan bahwa pada akhirnya yang menentukan adalah performanya di atas panggung, bukan komentar di luar panggung. “Kalau orang nak kata saya tamak, biarlah. Pada akhirnya, kita juga yang berada di atas pentas dan kita juga yang membuat persembahan. So, let them talk. Yang penting kita teruskan sahaja,” katanya.
Prioritas kesehatan dan manajemen energi
Untuk menjaga stamina menghadapi jadwal padat, Aisha mengatakan akan memberi perhatian khusus pada aspek kesehatan. Langkah-langkah yang disiapkan termasuk pengaturan pola makan yang lebih sehat dan tindakan pencegahan tambahan agar kondisi fisik dan mental tetap prima menjelang dua penampilan besar tersebut. Ia berharap dukungan doa agar semua berjalan lancar: “Insya-Allah semuanya dipermudahkan dan saya mohon doa semua agar kesihatan saya sentiasa berada dalam keadaan yang baik.”
Dalam konteks pekerjaan seni yang menuntut mobilitas dan ketahanan, Aisha menekankan filosofi hidupnya yang juga tercermin dalam kata-katanya: “Busy is good, busy is life sebagai seorang selebriti. Selagi kita masih ada daya, kesihatan mental dan fizikal yang baik, itu bukanlah definisi tamak.”
Meski menghadapi komentar publik, Aisha memilih untuk tetap profesional dan memprioritaskan persiapan teknis serta kondisi tubuhnya. Dengan perencanaan yang rapi dan manajemen waktu yang matang, ia berharap kedua penampilannya di Pestapora dan AJL dapat dinikmati penonton tanpa kendala.
