kencang77slot gacor slot77slot gacorPortal Data Grobogan 8990001Portal Data Grobogan 8990002Portal Data Grobogan 8990003Portal Data Grobogan 8990004Portal Data Grobogan 8990005Portal Data Grobogan 8990006Portal Data Grobogan 8990007Portal Data Grobogan 8990008Portal Data Grobogan 8990009Portal Data Grobogan 8990010Portal Data Grobogan 8990011Portal Data Grobogan 8990012Portal Data Grobogan 8990013Portal Data Grobogan 8990014Portal Data Grobogan 8990015Portal Data Grobogan 8990016Portal Data Grobogan 8990017Portal Data Grobogan 8990018Portal Data Grobogan 8990019Portal Data Grobogan 8990020Tsi Journals 899001Tsi Journals 899002Tsi Journals 899003Tsi Journals 899004Tsi Journals 899005Tsi Journals 899006Tsi Journals 899007Tsi Journals 899008Tsi Journals 899009Tsi Journals 899010Tsi Journals 899011Tsi Journals 899012Tsi Journals 899013Tsi Journals 899014Tsi Journals 899015Tsi Journals 899016Tsi Journals 899017Tsi Journals 899018Tsi Journals 899019Tsi Journals 899020TSI Journal 789001TSI Journal 789002TSI Journal 789003TSI Journal 789004TSI Journal 789005TSI Journal 789006TSI Journal 789007TSI Journal 789008TSI Journal 789009TSI Journal 789010TSI Journal 789011TSI Journal 789012TSI Journal 789013TSI Journal 789014TSI Journal 789015TSI Journal 789016TSI Journal 789017TSI Journal 789018TSI Journal 789019TSI Journal 789020Syariah UINSAID 23001Syariah UINSAID 23002Syariah UINSAID 23003Syariah UINSAID 23004Syariah UINSAID 23005Syariah UINSAID 23006Syariah UINSAID 23007Syariah UINSAID 23008Syariah UINSAID 23009Syariah UINSAID 23010Syariah UINSAID 23011Syariah UINSAID 23012Syariah UINSAID 23013Syariah UINSAID 23014Syariah UINSAID 23015Syariah UINSAID 23016Syariah UINSAID 23017Syariah UINSAID 23018Syariah UINSAID 23019Syariah UINSAID 23020Syariah UINSAID 23021Syariah UINSAID 23022Syariah UINSAID 23023Syariah UINSAID 23024Syariah UINSAID 23025Syariah UINSAID 23026Syariah UINSAID 23027Syariah UINSAID 23028Syariah UINSAID 23029Syariah UINSAID 23030Informasi Rumah Sakit Cilegon 89001Informasi Rumah Sakit Cilegon 89002Informasi Rumah Sakit Cilegon 89003Informasi Rumah Sakit Cilegon 89004Informasi Rumah Sakit Cilegon 89005Informasi Rumah Sakit Cilegon 89006Informasi Rumah Sakit Cilegon 89007Informasi Rumah Sakit Cilegon 89008Informasi Rumah Sakit Cilegon 89009Informasi Rumah Sakit Cilegon 89010Informasi Rumah Sakit Cilegon 89011Informasi Rumah Sakit Cilegon 89012Informasi Rumah Sakit Cilegon 89013Informasi Rumah Sakit Cilegon 89014Informasi Rumah Sakit Cilegon 89015Informasi Rumah Sakit Cilegon 89016Informasi Rumah Sakit Cilegon 89017Informasi Rumah Sakit Cilegon 89018Informasi Rumah Sakit Cilegon 89019Informasi Rumah Sakit Cilegon 89020

Usulan Revisi UU P2SK: Kripto Jadi Alat Pembayaran

Usulan Revisi UU P2SK

advent1jkt.sch.id – Komisi XI DPR menggelar Rapat Dengar Pendapat Umum (RDPU) pada 24 September 2025 untuk membahas Revisi UU P2SK (Pengembangan dan Penguatan Sektor Keuangan). Rapat ini libatkan PT Jasa Raharja, Asosiasi Blockchain Indonesia (ABI), Asosiasi Asuransi Umum Indonesia, dan Asosiasi Asuransi Syariah Indonesia. Fokus utama adalah menampung usulan dari berbagai pihak untuk perkuat sektor keuangan, salah satunya ide inovatif agar aset kripto jadi alat pembayaran resmi. Artikel ini ulas usulan tersebut, potensi kripto di Indonesia, serta peluang dan tantangan yang menyertainya.

RDPU Komisi XI DPR: Latar Belakang Revisi UU P2SK

Komisi XI DPR adakan RDPU untuk kumpulkan masukan terkait Revisi UU P2SK, yang bertujuan tingkatkan daya saing sektor keuangan Indonesia. Rapat ini hadirkan pemangku kepentingan seperti PT Jasa Raharja dan asosiasi terkait untuk pastikan regulasi selaras dengan kebutuhan pasar. Wakil Ketua Umum Asosiasi Pedagang Aset Kripto Indonesia-Asosiasi Blockchain Indonesia (Aspakrindo-ABI), Yudhono Rawis, ajukan tiga usulan kunci, dengan sorotan utama pada legalisasi kripto sebagai alat pembayaran. Langkah ini respons terhadap perkembangan teknologi blockchain dan meningkatnya adopsi kripto di masyarakat.

Usulan Kripto sebagai Alat Pembayaran

Yudhono Rawis tekankan pentingnya inovasi dalam Revisi UU P2SK, khususnya dengan jadikan aset kripto sebagai alat pembayaran resmi. Usulan ini muncul karena potensi transaksi kripto di Indonesia sangat besar, namun pasar domestik belum serap sepenuhnya. Menurut data, volume perdagangan kripto di Indonesia capai triliunan rupiah per tahun, tapi banyak transaksi mengalir ke bursa internasional karena regulasi domestik yang masih terbatas. Dengan demikian, legalisasi kripto sebagai alat pembayaran bisa tingkatkan inklusi keuangan dan tarik investasi.

Usulan ini juga dorong pemerintah untuk ciptakan kerangka regulasi yang jelas, termasuk pajak dan perlindungan konsumen, agar ekosistem kripto berkembang aman. Untuk itu, Aspakrindo-ABI harap revisi UU ini jadi langkah strategis untuk posisikan Indonesia sebagai pusat inovasi keuangan digital di ASEAN.

Potensi Kripto di Pasar Indonesia

Pasar kripto Indonesia tunjukkan pertumbuhan pesat. Berdasarkan laporan Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (Bappebti), lebih dari 17 juta investor kripto terdaftar di Indonesia hingga 2025, dengan nilai transaksi tahunan tembus Rp 300 triliun. Namun, Yudhono soroti bahwa potensi ini belum optimal karena kurangnya regulasi yang dukung kripto sebagai alat pembayaran. Banyak pelaku usaha dan konsumen beralih ke platform asing, kurangi dampak ekonomi lokal.

Jika Revisi UU P2SK akomodasi usulan ini, kripto bisa jadi alternatif pembayaran di sektor ritel, e-commerce, hingga remitansi. Ini juga buka peluang bagi UMKM untuk terima pembayaran digital yang cepat dan murah, kurangi ketergantungan pada sistem perbankan tradisional.

Tantangan dalam Legalisasi Kripto

Meski menjanjikan, usulan jadikan kripto sebagai alat pembayaran hadapi sejumlah tantangan. Pertama, risiko volatilitas harga kripto bisa ganggu stabilitas ekonomi jika tak diatur ketat. Kedua, ancaman keamanan seperti peretasan dan penipuan di platform kripto perlu solusi teknologi dan regulasi yang kuat. Ketiga, literasi keuangan digital di kalangan masyarakat masih rendah, terutama di daerah pedesaan.

Selain itu, koordinasi antar lembaga seperti Bank Indonesia, Otoritas Jasa Keuangan (OJK), dan Bappebti jadi kunci untuk ciptakan regulasi yang harmonis. Untuk itu, Revisi UU P2SK harus pastikan keseimbangan antara inovasi dan mitigasi risiko agar kripto aman digunakan.

Langkah Strategis untuk Implementasi

Aspakrindo-ABI usul beberapa langkah strategis dalam Revisi UU P2SK untuk dukung kripto sebagai alat pembayaran. Pertama, pemerintah perlu tetapkan stablecoin berbasis rupiah sebagai opsi utama untuk kurangi volatilitas. Kedua, wajibkan platform kripto daftar di Bappebti dan patuh pada standar keamanan siber. Ketiga, adakan program edukasi nasional untuk tingkatkan literasi kripto di masyarakat.

Kolaborasi dengan sektor swasta, seperti asosiasi blockchain dan fintech, juga penting untuk bangun ekosistem yang inklusif. Dengan demikian, Indonesia bisa ikuti jejak negara seperti Singapura dan UEA yang sukses integrasikan kripto dalam sistem keuangan.

Kesimpulan

Revisi UU P2SK yang usul kripto sebagai alat pembayaran jadi langkah progresif untuk dorong inovasi keuangan di Indonesia. Usulan Aspakrindo-ABI dalam RDPU Komisi XI DPR tanggal 24 September 2025 respons potensi besar pasar kripto yang belum terserap maksimal. Meski hadapi tantangan seperti volatilitas dan literasi rendah, regulasi yang tepat bisa wujudkan inklusi keuangan dan posisikan Indonesia sebagai pemimpin di sektor keuangan digital. Dengan dukungan semua pemangku kepentingan, Revisi UU P2SK berpotensi ubah lanskap ekonomi digital tanah air.

US
content-1701

budaya 538000021

budaya 538000022

budaya 538000023

budaya 538000024

budaya 538000025

budaya 538000026

budaya 538000027

budaya 538000028

budaya 538000029

budaya 538000030

budaya 538000031

budaya 538000032

budaya 538000033

budaya 538000034

budaya 538000035

budaya 538000036

budaya 538000037

budaya 538000038

budaya 538000039

budaya 538000040

budaya 538000041

budaya 538000042

budaya 538000043

budaya 538000044

budaya 538000045

budaya 538000046

budaya 538000047

budaya 538000048

budaya 538000049

budaya 538000050

budaya 538000051

budaya 538000052

budaya 538000053

budaya 538000054

budaya 538000055

budaya 538000056

budaya 538000057

budaya 538000058

budaya 538000059

budaya 538000060

article 898100131

article 898100132

article 898100133

article 898100134

article 898100135

article 898100136

article 898100137

article 898100138

article 898100139

article 898100140

article 898100141

article 898100142

article 898100143

article 898100144

article 898100145

article 898100146

article 898100147

article 898100148

article 898100149

article 898100150

article 898100151

article 898100152

article 898100153

article 898100154

article 898100155

article 898100156

article 898100157

article 898100158

article 898100159

article 898100160

article 878800071

article 878800072

article 878800073

article 878800074

article 878800075

article 878800076

article 878800077

article 878800078

article 878800079

article 878800080

article 878800081

article 878800082

article 878800083

article 878800084

article 878800085

article 878800086

article 878800087

article 878800088

article 878800089

article 878800090

article 878800091

article 878800092

article 878800093

article 878800094

article 878800095

content-1701