Tentera Udara Diraja Malaysia (TUDM) menyusun rencana untuk ganti C-130 sejalan dengan meningkatnya tuntutan operasi dan usia pesawat yang kian uzur. Keputusan itu muncul setelah memperhatikan bahwa beberapa pesawat C-130 Hercules yang dimiliki TUDM sudah berusia puluhan tahun.

Panglima Tentera Udara Jeneral Tan Sri Muhamad Norazlan Aris menyoroti kondisi armada saat membuka perbincangan publik di sela Perbarisan Hari Ulang Tahun TUDM ke-68. Salah satu pertimbangan utama adalah beban biaya penyelenggaraan yang terus membesar serta kelebihan teknologi dan kapasitas pada pesawat generasi lebih baru.
Alasan penggantian dan kondisi armada
Menurut panglima, pesawat C-130 Hercules pertama yang diterima TUDM kini mencapai usia 50 tahun, sementara unit termuda berumur 31 tahun. Saat ini, angkatan udara memoperasikan 10 unit C-130 Hercules dalam berbagai varian. Meski kemampuan model ini selama bertugas telah terbukti, faktor usia dan biaya perawatan menjadi pendorong utama untuk menggantinya.
“Tugas TUDM akan menjadi lebih besar dan lebih mencabar, justeru kita memerlukan aset yang berkeupayaan untuk melaksanakan tugas tersebut,” kata Muhamad Norazlan ketika berbicara kepada wartawan pada hari peringatan tersebut. Pernyataan ini menegaskan kebutuhan akan platform yang lebih modern untuk menghadapi tantangan operasi yang berkembang.
Kajian penggantian pesawat tempur dan penambahan LCA
Selain rencana penggantian pesawat pengangkut, TUDM tengah melakukan kajian terhadap penggantian pesawat tempur multirole dan penambahan pesawat tempur ringan (Light Combat Aircraft/LCA) menjelang 2035. Kajian ini mempertimbangkan kemungkinan isu keusangan dan keterbatasan dukungan penyelenggaraan untuk aset yang ada di masa depan.
Panglima turut menjelaskan bahwa TUDM belum memutuskan apakah akan memilih pesawat generasi 4.5, kelima, atau keenam. Pemilihan jenis pesawat baru akan disesuaikan dengan Dasar Pertahanan Negara yang bersifat defensif, sehingga aspek kebijakan nasional menjadi faktor penentu dalam proses perolehan.
Kesiapan FA-50 dan penyiapan infrastruktur
Di samping rencana jangka panjang itu, kesiapan TUDM untuk menerima pesawat tempur ringan FA-50 dilaporkan sudah mencapai sekitar 90 persen. Pangkalan Udara Kuantan tengah menyelesaikan fasilitas infrastruktur yang dijadwalkan rampung sepenuhnya pada Oktober mendatang.
Sebanyak enam juruterbang TUDM sedang mengikuti latihan penerbangan FA-50 di Gwangju Airbase, Korea Selatan, disertai tim dukungan teknis. Dua dari mereka dijadwalkan menyelesaikan latihan pada Oktober, sementara empat lainnya dijadwalkan tuntas pada Desember.
“Apabila mereka balik, sudah boleh mula terbang, kita hanya perlu menubuhkan skuadron dan menyediakan prosedur operasi standard (SOP) mengikut keperluan TUDM,” ujar Muhamad Norazlan, menjelaskan langkah yang akan diambil setelah pilot kembali dari pelatihan.
Hadirnya FA-50 dipandang mampu memperluas kapasitas pelatihan pilot secara domestik, sehingga lebih banyak penerbang bisa berlatih di dalam negeri sebelum dialihkan ke pesawat yang lebih canggih. Kontrak pembelian 18 unit FA-50 ditandatangani Kementerian Pertahanan dengan Korea Aerospace Industries (KAI) pada 2023, dengan dua pesawat pertama dijangka tiba pada Oktober dan sisanya diserahkan secara bertahap.
Rencana penggantian C-130 dan pemodernan armada tempur menandai upaya TUDM menyesuaikan kemampuan operasional dengan kebutuhan masa depan. Tahapan kajian, pemilihan platform baru, dan pembangunan infrastruktur akan menentukan laju modernisasi tanpa mengubah fokus kebijakan pertahanan yang telah ditetapkan.
